Jumat, 20 Januari 2012

MALIOBORO bukan MARLBORO



Rokok merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihilangkan oleh kebanyakan masyarakat (Kompasiana, 2011), sehingga banyak produsen rokok berlomba saling membuat inovasi pada produk-produknya. Pernyataan ini terbukti dengan banyaknya varian dari produk rokok muncul, baik di iklan media cetak, elektronik, maupun masa.
Marlboro adalah pemimpin pasar di segmen rokok putih sebagai dituliskan pada majalah swa (Rahayu, 2011), dan saat ini banyak produk-produk rokok yang mengadopsi kemasan marlboro untuk menghegemoni pasar. Salah satu produk yang menggunakan packaging mirip dengan rokok Marlboro adalah Malioboro.
Hegemoni berdasarkan kamus Kamus kata-kata serapan asing dalam bahasa Indonesia (Badudu, 2003) berarti pengaruh kekuasaan suatu negara terhadap negara lain atau terhadap negara bagiannya. Althusser dalam teorinya (Eriyanto, 2001) tentang ideologi menekankan bagaimana kekuasaan kelompok  yang dominan dalam mengontrol kelompok lain. Berdasarkan pengertian ini dapat dianalisa bahwa hegemoni dalam komunikasi visual menyebabkan orang melihat dunia secara distorsi ideologi. Masyarakat banyak yang terpengaruh oleh sebuah ideologi besar secara tidak sadar.
Louis Piere Althusser menuliskan bahwa ideologi dikeluarkan oleh pemerintah melalui aparat-aparatnya, sehingga masyarakat tidak terasa bawha telah dihegemoni, hal ini dikenal dengan ideological state aparatus (Szeman & Kaposy, 2011). Sebagai contoh, orang madura jauh lebih patuh kepada kyai dari pada polisi, maka untuk menghegemoni masyarakatnya pemerintah menggunakan Kyai. Sama halnya seperti pada Malioboro, bisa jadi produk rokok ini ingin menghegemoni kalangan masyarakat tertentu dengan sebuah tujuan memasukkan ideologinya.
Kemasan rokok Malioboro memberikan kesan yang kuat terhadap rokok Marlboro. Hal ini memiliki beberapa kemungkinan rokok Malioboro dibuat demikian. Berikut ini adalah hasil analisa yang didapatkan:
1.   Segmentasi pasar dari rokok Marlboro adalah untuk kelas menengah atas, sehingga baik dari harga maupun penampilan membuat jarak dengan kelas bawah. Malioboro menggunakan kemasan yang mirip dengan Marlboro agar pasar pada segmentasi ekonomi bawah dapat menikmati kesan “mahal” pada produknya.
2.   Bentuk kubah yang menyerupai penutup stupa di borobudur, dapat dianalisa bahwa produk rokok Malioboro ini dipasarkan di daerah Magelang, sekitaran borobudur. Ditinjau dari segmen geografi yang merupakan daerah tepi dari pusat pemerintahan, yaitu Yogyakarta, dan demografinya golongan dewasa lanjut, dapat disimpulkan bahwa Malioboro dibuat untuk memberikan kesan selera kelas atas tanpa meninggalkan ciri dan sifat geografi dan demografinya. Hal ini membuat golongan dewasa tua di daerah tersebut merasakan bahwa “ini gue banget” pada Malioboro.
3.   Malioboro diproduksi oleh sebuah produsen rokok, belum diketahui produsennya, sehingga akan sulit untuk menganalisa kemasan tersebut. Melalui teori yang dilahirkan oleh Roland Barthes yaitu The Death of the Author (Janaway, 2006), kita dapat menganalisa dengan mengabaikan siapakah pengarang atau pembuat dari kemasan Malioboro melalui demografinya. Malioboro dipasarkan untuk Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama islam. Pada kalangan islam tertentu ada yang menyatakan bahwa Marlboro adalah rokok milik kapitalis, sehingga kalangan ini tidak mau mengkonsumsinya. Melalui tampilan kemasan yang mirip kubah masjid dapat dianalisa bahwa Malioboro merupakan sebuah alat untuk menghegemoni masyarakat pada golongan Islam tersebut. Kemungkinan yang terjadi adalah apabila rokok Malioboro ini adalah produk dari anak perusahaan Marlboro, maka dimungkinkan bahwa Marlboro sebagai pihak kapitalis ingin membuat produk rokok yang diterima oleh islam secara menyeluruh, berdasarkan faktor behavioristik (kesempatan, manfaat, status pemakai, Tingkat pemakaian).

Bibliography

Badudu, Y. (2003). Kamus kata-kata serapan asing dalam bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Eriyanto. (2001). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Salakan Baru No. 3 Sewon Bantul Jl. Parangtritis Km. 4,4 Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang.
Janaway, C. (2006). Reading aesthetics and philosophy of art: selected texts with interactive commentary. Pondicherry, India: SPI Publisher Services.
Kompasiana. (2011, September 2). Rep. Rokok Juga Kebutuhan Lebaran . Jakarta: Kompas.
Rahayu, E. M. (2011, April 4). Marlboro Lights Ganti Kemasan Baru . Jakarta: SWA.
Szeman, I., & Kaposy, T. (2011). Cultural Theory: An Anthology. Pondicherry, India: SPi Publisher Services.


Jumat, 13 Januari 2012

Semua Air Minum Kemasan Itu Namanya Aqua



Air putih kok dibotolin? Sepenggal kalimat yang cukup sering saya dengar dari beberapa dosen di International Design School, karena bisa di bilang sejarah AQUA ini sangatlah menarik, pemikiran sederhana dari Tirto Utomo (1930-1994) yang awalnya tercetus di saat ia menjamu tamu dari luar negeri yang setelah itu terkena diare, karena tamu-tamu yang dari negeri barat tersebut tidak biasa meminum air yang direbus, tetapi air yang telah disterilkan. Masyarakat Indonesia sendiri ketika itu masih belum bisa menerima produk ini, karena pada saat itu harganya dua kali lebih mahal dari harga bensin 1000ml.
Namun kini keberadaan air minum dalam kemasan menjadi suatu kebutuhan sehari-hari, Seiring dengan semakin padatnya penduduk di kota-kota besar, pencemaran Air pun tidak terbendung. Sekarang hampir semua Keluarga yang tinggal di Kota-kota besar Mengkonsumsi Air Minum yang di kemas. Mereka semakin sadar akan kesehatan mereka, ini yang membuat konsumsi air mineral kemasan akan semakin meningkat. Bahkan semakin banyak produk serupa yang terus bermunculan, namanya pun beraneka ragam dan beberapa memiliki nama yang mirip dengan AQUA.
Perusahaan Air Mineral Aqua sudah menjadi bagian hidup orang Indonesia bahkan telah menjadi majas metonimia untuk air mineral kemasan, nama Aqua kini telah menjadi semacam nama generik dari produk Air Minum Dalam Kemasan serupa di Indonesia. Kalau diperhatikan sekitar kita, berapa banyak orang yang kita temui menyebut nama Aqua saat mereka hendak membeli air minum dalam kemasan di warung atau toko? jarang sekali ada pembeli yang protes saat mereka diberi merk lain, seperti Vit, 2Tang, Cleo, Prima, Nestle Purelife, Fontana, Aquaria, Club Aqua, Oasis, Club, Vitqua, Pristine atau Ades oleh si penjual padahal sebelumnya mereka meminta “Beli Aqua satu..”. bahkan ketika di rumah atau sedang bertamu kita pun terkadang ditawarikan minuman, “Mau minum apa”, spontan menjawab “AQUA”. Padahal yang diberikan adalah air putih. Menariknya, banyak di antara merk baru itu yang kemasan dan warna merknya mirip dengan Aqua. Ini menunjukkan betapa kuatnya identitas  dari brand AQUA.

Dilengkapi juga dengan keterlibatan brand AQUA pada beberapa moment, bidang dan peristiwa, seperti olahraga, peristiwa kenegaraan, pendidikan dan lain sebagainya membuat posisi AQUA semakin kuat dan menjadi pemimpin dalam segala bidang, terutama yang berhubungan dengan kesehatan tubuh serta kealamian.

Hal ini mungkin sekali terjadi karena Aqua adalah pelopor bisnis air minum dalam kemasan dan menjadi produsen air minum dalam kemasan terbesar di Indonesia. Bahkan pangsa pasarnya sendiri saat ini sudah tidak hanya di Indonesia, di beberapa belahan dunia, AQUA berdiri tegak sejajar dengan merek-merek dunia, di antaranya Singapura, Malaysia, Fiji, Australia, Timur Tengah dan Afrika. Di Indonesia sendiri mereka menguasai 80 persen penjualan produk ini di dalam kemasan galon. Sedangkan untuk keseluruhan market share air mineral dalam kemasan di Indonesia, Aqua menguasai 50 persen pasar. Saat ini Aqua memiliki 14 pabrik yang tersebar di Jawa dan Sumatra.

Sepanjang tahun 2011 ini, menurut ketua umum Asosiasi Air Kemasan Indonesia (Aspadin) Hendro Baroneo, volume penjualan Air Minum Dalam Kemasan(AMDK) mencapai 17,3 miliar liter, atau melonjak 23% dibandingkan tahun lalu.

Volume penjualan terbesar menurut Hendro disumbang oleh air minum dalam kemasan galon untuk konsumsi perumahan dan galon yang mencapai 70% dari total penjualan AMDK. Pertumbuhan AMDK galun menurut Hendro karena peralihan konsumsi air masak oleh konsumen ruah tangga ke air kemasan galon. Tahun 2012 besok, aspadin mentargetkan AMDK mencapai volume 19.88 miliar liter, atau naik 11% dibandingkan tahun ini. Kenaikan 11% tersebut telah diperhitungkan dengan beberapa hambatan yang terjadi pada tahun 2012 besok.

Air minum dalam kemasan seolah-olah menjadi konsumsi wajib bagi rumah tangga Higienis, Air sumur maupun pam belum tentu dapat dikatakan higienis dan layak untuk diminum, Air minum dalam kemasan yang melalui promosinya menyatakan bahwa terdapat beberapa proses sebelum air tersebut dituangkan dalam kemasan. Hal tersebut cenderung mengubah pola pikir masyarakat, bahwa Air minum dalam kemasan tentunya terjamin kebersihan dan layak untuk diminum. Ekonomis Beberapa Air minum dalam kemasan memiliki persamaan dari segi harga, tidak terlalu mahal dan dapat dijangkau oleh semua kalangan masyarakat. Memang pada awalnya mereka berpikir bahwa dapat membawa sendiri air minum ataupun memasaknya ketika di rumah. Namun dengan adanya Air minum dalam kemasan, pola tersebut berubah, Air minum dalam kemasan dengan harga yang terjangkau dan beberapa keunggulan tentunya menjadi pilihan masyarakat dalam konsumsi rumah tangga mereka.

Tampilan Kemasan Air minum dalam kemasan dengan kemasan yang menarik tentunya mempengaruhi masyarakat, berbeda dengan sumber air lainnya, yang harus diproses terlebih dahulu baru layak untuk diminum. Dengan tampilan yang atraktif dan menarik tentunya akan membuat masyarakat lebih tertarik. Gaya Hidup Pola hidup masyarakat yang semakin modern dan tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks serta keinginan sesuatu yang serba cepat, membuat Air minum dalam kemasan menjadi pilihan. Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang menginginkan sesuatu yang cepat, praktis, nyaman, namun tetap memperhatikan faktor kesehatan. Minuman-minuman dalam kemasan juga kebanyakan mengandung kalori tinggi sehingga bisa menyebabkan kegemukan. Karena itu lebih disarankan untuk mengonsumsi air putih biasa saat kita sedang haus. “Begitu haus sebaiknya langsung minum karena rasa haus merupakan sinyal dari tubuh kalau kita sudah mulai dehidrasi ringan. Jika diabaikan hal ini bisa mengganggu kemampuan kognitif sehingga kita bisa kehilangan konsentrasi atau mengantuk,” tutur dr.Saptawati Bondowoso, Sp.GK.

AQUA menciptakan suatu identitas baru dalam penyebutan suatu produk. Hal yang memang sulit untuk dapat dilakukan oleh suatu brand, namun biasanya, terjadi pada produk-produk yang menjadi pelopor terhadap suatu kebutuhan di masyarakat.

Artikel ini ditulis sebagai tugas mata kuliah Social Studies, Program S2 Creative & Media Entreprise, International Design School. Dosen : Seno Gumira Ajidarma

Cukup Linkedin sebagai CVmu

Linkedin.com berhasil membuat pola standar penulisan dan bahkan bisa dijadikan sebagai acuan dalam pembuatan resume/curriculum vitae. Lebih dari 135 juta profesional menggunakan LinkedIn untuk bertukar informasi, ide dan peluang. Profile di buat cukup informatif, sehingga siapapun yang melihat dapat dengan cepat mengetahui secara detail point-point utama dari setiap professional di bidangnya masing-masing.

Jabatan atau posisi seseorang di suatu perusahaan adalah yang terpenting, experience dan deskripsi singkat perusahaan-perusahan yang saat ini dilakoni dan yang sudah tidak lagi. Bahkan kolega bisa memberikan rekomendasi terhadap kualitas kerjanya, sehingga membantu para pencari business partner untuk dapat direkrut ke dalam perusahaannya atau bekerjasama dalam suatu bisnis. Saya rasa sudah cukup lengkap dan jelas user interface milik linkedin ini. Namun secara visual linkedin masih terkesan kaku dan kurang menarik dari segi design, 
Pada laman profile dapat dilihat foto dan rangkuman dari semua pengalaman kerjanya, mulai dari tempat bekerja sekarang sampai sebelumnya, semua bisa dimasukkan sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan, rekomendasi, koneksi, portofolio, akun twitter dan url. Untuk detail dari masing-masing deskripsi pengalaman kerja hanya tinggal di scrool ke bawah. Laman ini pun juga terdapat icon share, pdf dan print, sehingga membuat pengguna mudah untuk menindaklanjuti CV mereka sendiri.
Saya rasa memang cukuplah Linkedin.com sebagai Curriculum Vitae kita untuk mencari kerja, kolega, partner bisnis dan bertukar informasi apapun.

Komitmen & Kejujuran Berkoperasi

Tujuan dalam mendirikan koperasi adalah untuk membentuk suatu organisasi yang nantinya akan bergerak di bidang usaha bersama demi memenuhi kepentingan bersama, salah satunya dalam bersama-sama mengembangkan modal usaha agar dapat memajukan kesejahteraan para anggotanya. Dengan keanggotaan yang bersifat sukarela dan terbuka, maka pengelolaan dapat dilakukan secara demokratis, dengan cara menunjuk kepengurusan secara bersama sesuai dengan kesepakatan dalam pola pemilihan, titik terpenting di sini adalah kepercayaan, dapat dibilang konsep kepengurusan koperasi berawal dari sini, karena bisa berakibat fatal, terutama saat pembagian sisa hasil usaha yang harus dilakukan secara adil, sebanding dengan besarnya tingkat usaha dari masing-masing anggota. Selain kepercayaan, kemandirian diperlukan bagi semua anggota, karena ini adalah modal utama dalam membangun sebuah usaha.


Cukup banyak pengusaha yang menjalankan sistem koperasi, karena sifatnya kekeluargaan namun memiliki kekuatan untuk saling membangun satu sama lain, sehingga setiap calon usaha ataupun yang sedang menjalankan usaha dapat saling bersama-sama berkembang dari sistem, pola dan modal yang memang pada dasarnya dibangun bersama-sama. Jelas di sini koperasi akan menjadi besar ketika sesama anggotanya memiliki komitmen dan kejujuran dalam menjalankan setiap usaha dengan dasar sistem berkoperasi yang baik dan saling menguntungkan satu sama lain.
Banyak yang bisa diambil dari sistem koperasi dan bisa di terapkan dalam strategi bisnis, antara lain para anggota koperasi di beberapa daerah atau bahkan seluruh Indonesia, mereka 


Dapat bersama-sama mengembangkan sistem yang saling berkait hingga membangun suatu jaringan yang besar dan saling mendukung.
Sama seperti bentuk usaha lain, untuk memulai menjalankan kegiatan usaha koperasi juga memerlukan modal. ada beberapa sumber modal yang dapat dilakukan. yaitu simpanan pokok yang dibayarkan oleh anggota pada saat mulai mendaftar, simpanan wajib yang harus dibayar dalam jangka waktu dan jumlah yang sudah disepakati, simpanan sukarela yang merupakan simpanan yang dapat dilakukan kapan saja, namun pada prakteknya sangat jarang anggota yang mau melakukan ini, lalu dana cadangan dan hibah.
Adapun modal pinjaman koperasi bisa berasal dari  anggota dan calon anggota, koperasi lainnya dan/atau anggotanya yang didasari dengan perjanjian kerjasama antarkoperasi, Bank dan Lembaga keuangan bukan banklembaga keuangan lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perudang-undangan yang berlaku, penerbitan obligasi dan surat utang lainnya yang dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta sumber lain yang sah
Tulisan ini adalah bagian dari mata kuliah Creative Industry S2 Creative & Media Enterprise IKJ - IDS. 

Selasa, 10 Januari 2012

Sedekat Kentucky Fried Chicken

Dekat dengan konsumen, saya rasa ini adalah kekuatan dari bisnis franchise yang pertama kali di Indonesia dicetus oleh kelompok usaha Gelael. Kini terus menerus dan semakin melebar, meraih di semua titik keramaian di Indonesia. Kentucky Fried Chicken Indonesia benar-benar menunjukkan bahwa strategi yang mereka tekuni telah menghasilkan konstruksi yang kuat dalam memijakkan fondasi bisnisnya di Indonesia. Seolah konsumen dimanjakan dengan kehadirannya di manapun di samping mereka.

KFCI paham karakter konsumennya. dari waktu ke waktu selalu disesuaikan dengan berjalannya trend, lifestyle, pola hidup hingga kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan demografi lokal. Beberapa terobosan dalam sistem pemasaran hingga konsep penjualan yang unik dilakukan demi kepuasan dan kedekatan dengan konsumen. Salah satu konsep terbesarnya adalah mengintegrasikan diri dengan dunia musik yang memang merupakan industri dengan skala besar yang sanggup menyentuh dan mempengaruhi konsumennya. Banyak musisi yang bergabung karena sistem saling menguntungkan, terutama bagi musisi itu sendiri, di mana industri musik yang saat ini bisa dikatakan semakin terpuruk, semenjak tumbuh pesatnya dunia musik digital. KFCI hadir dengan satu konsep yang sanggup membuat industri musik tanah air bertahan, bahkan menciptakan musisi-musisi baru yang tak kalah bersaing.

Saya rasa tidak perlu berpanjang lebar mengenai menu makanan dari KFC, jelas semua sudah tahu. Ini secara tidak sadar terjadi karena strategi marketing yang kuat dan fokus pada konsumen. Sehingga dapat dikatakan konsumen sudah hapal di luar kepala dengan menu-menu utama KFC.

Ada 3 hal yang membuat KFCI sukses mengembangkan bisnisnya.
1. Produk, dengan menjaga standarisasi dari kualitas yang telah diciptakan Colonel Sanders, maka rasa lezatnya akan terus membuat konsumen setia untuk terus bolak-balik menikmati rasa yang original dari ayam KFC.
2. Target pasar, dengan kualitas rasa dan harga yang terjangkau, KFC jelas bisa menembus semua pasar.
3. Strategi, ini adalah kunci penentu dari suksesnya bisnis franchise KFCI yang harus selalu menelurkan inovasi-inovasi dalam mengembangkan sistem promosi produk dengan selalu mengintegrasikannya  dengan trend maupun lifestyle yang terus bergerak cepat.

Bisnis yang kita jalani sekarang baiknya menerapkan sistem ini, karena 3 hal yang diterapkan KFCI merupakan


fondasi pokok yang baiknya dilakukan bagi para pelaku bisnis dalam memasarkan produknya, walaupun berskala kecil.

Friday - Crown of golden sun



Selasa, 21 September 2010

Hmmm...

Ada seorang teman yang bertanya, apa bedanya pernikahan dengan perjanjian kerja sama antar perusahaan bisnis seperti perseroan terbatas, kontrak dagang. Pernikahan sebagai suatu kontrak apakah dapat disamakan dengan kontrak dagang? Jikalau pada praktek-nya ternyata YA, lalu di manakah letak kesakralan, keindahan, dan keidealan pernikahan itu sendiri?

Di sini lalu muncul ide kerja sama, Untuk dapat melangsungkan pernikahan yang (konon disebut) langgeng dan harmonis maka diperlukan kerja sama dari dua belah pihak (2 orang DAN 2 keluarga besar). Apakah memaklumi merupakan suatu bagian dari kerja sama? Ataukah akan membawa bencana pada akhirnya? Apakah pernyataan umum “menerima apa adanya” juga merupakan suatu bagian dari kerja sama? Ataukah akan membawa bencana pada akhirnya juga?

Apa sih aturan-aturan (baik secara hukum, norma, etika, budaya, dan masih banyak lagi peraturan yang tidak tertulis) yang harus dilakukan dalam masa pra dan pasca pernikahan/perkawinan? Bagaimana dengan aturan-aturan pra dan pasca berkeluarga?

“Simbiosis” kah? Jika ya, simbiosis yang berbentuk seperti apa dan subjek/objek apa saja yang terlibat/harus dilibatkan di dalamnya? Jika tidak, lalu apa?


Berdasarkan link di atas muncul pertanyaan dalam benak saya. Apa sajakah alasan orang-orang melangsungkan atau memilih jalan pernikahan/perkawinan (tergantung dari sudut pandang bidang bahasa atau sudut pandang bidang hukum)? Apa alasan yang sebenarnya, sesuai dengan fakta, bukan hanya sekedar teori dan/atau hipotesa dan/atau asumsi belaka.

***

Saya suka dengan pemikirannya, membuat batin serta otak saya terbuka terhadap berbagai polah pikir manusia tunggal. Saya rasa semua aspek kehidupan kita itu sama satu sama lain… yang membedakan hanya “menurut” baik atau buruknya saja dampak bagi kehidupan kita. memang pernikahan bisa di bilang tidak ada bedanya dengan perjanjian kontrak kerjasama bisnis demi tercapainya keharmonisan dalam hidup… kalau memang sama apa iya akan mengurungkan kita untuk menikah? nggak juga kan?

Manusia hidup bersosialisasi… jelas tidak bisa hidup sendiri… sangat jelas… kita membutuhkan satu sama lain… menikah bukan hanya sebagai pelengkap hidup, bukan pula sebagai ikut2an atau tradisi dalam hidup yang sudah terjalani berabad-abad. tapi merupakan kebutuhan bathin dan raga yang kadang tidak kita sadari dasarnya. sekarang memang banyak sekali yang menikah karena asal menikah, hanya karena melihat kecocokan tak nyata satu sama lain. justru cinta dari bathin yang tulus ini kadang terlupakan. hidup bukan hanya pandangan mata… tapi pandangan hati yang tak sadar terkontrol karena pandangan mata itu sendiri… maaf kalau ada yang salah… saya hanya ingin share… p

Minggu, 11 April 2010

Akhirnya











Setelah ditinggal sang gitaris beberapa bulan lalu, akhirnya Friday manggung lagi. Beberapa bulan kemarin kami benar-benar dipusingkan dengan hal ini. Mencari penggantinya bukan hal yang mudah. karena kita sudah lama bersama-sama. 10 tahun kami satu.

Memang bermusik bukan hal yang utama bagi kami. Ada keluarga, kerjaan atau apapun itu yang memang butuh perhatian lebih dari sekedar teriakan di panggung. Sedih memang, tapi mau gimana lagi. Apalagi kami berjarak. Surabaya dan Jakarta sangat jauh menurut kami, karena sangat susah untuk bisa satu lagi. sangat susah untuk bisa sama berpersepsi. sangat susah untuk menyatu harmoni, emosi apalagi hati.

Berbulan-bulan mengaduk-aduk sebagian kecil dari jakarta dengan harapan menemukan gitaris pengganti. Beberapa kali, entah itu sembunyi-sembunyi ngeliatin beberapa gitaris ngulik sampai langsung bertemu. Hmmm mungkin juga ada yang sakit hati karena "maaf" ternyata belum cocok. bahkan sampai sempat bikin janji untuk ketemu dan ngejam bareng, tapi sepihak kita batalin karena "mood" kita sendiri. Ada juga yang sudah sempet kontak beberapa kali, tapi kesibukan mengalahkan niat itu semua. Hmmm sekali lagi kami mohon maaf. Mohon maaf yang seluas-luasnya. Kami hampir lemas untuk meneruskan perjuangan dan mimpi yang kita bangun 10 tahun. Mimpi untuk bisa bareng-bareng terus, mimpi untuk bisa bikin karya yang unik, mimpi untuk jadi sesuatu yang bisa memberikan pengaruh dan mimpi-mimpi lainnya. Semua seolah kandas, semua seolah tak mungkin terjadi.

Waktu kami habis untuk hal ini. Rasanya seperti membuang waktu yang seharusnya kami gunakan untuk berkarya. Hmmm... tapi ya sudahlah.

Seiring waktu, tiba-tiba ada kabar kalau salah satu teman yang sempat beberapa kali di didik gitaris kami di surabaya pindah dan kerja di jakarta. Sudah tanpa pikir panjang langsung kami hubungi dan tanpa pikir panjang pula dia setuju. Ya sudah, beberapa bulan terakhir ini waktu kami manfaatkan untuk melatih agar dia mendekati karakter gitar dari lagu-lagu kami, ya tidak begitu mirip sih. Tapi karakter bermainnya memang sedikit mirip. Hanya butuh beberapa waktu lagi untuk bisa lebih dengan hati memainkannya. Gitaris kami dulu memang terlahir dengan cara bermain yang luar biasa. Hmmm... jadi agak sulit ada orang yang bisa menyamainya. Memang ada yang begitu sih, ada beberapa pemain yang memang sulit untuk ditiru soul cara bermainnya.  Hmmm tapi kami cukup lega. kekhawatiran sedikit demi sedikit berkurang. Mudah-mudahan dengan gitaris baru ini besok kita bisa bermain bagus, minimal mendekati bagus. hehe Amin

Yang penting bermusik itu tanpa tekanan, biarin hati yang ngalirin arus emosinya.

Senin, 15 Maret 2010

Omnilight























Cahaya Tuhan
Sumber dari segala sumber cahaya
Bahkan lebih seharusnya menggambarkan
Tak ada yang sanggup menyamainya
Tak ada yang sanggup menyentuhnya
Tiada yang sanggup memandang keindahannya.

Kita tahu cahaya Tuhan dekat dengan kita
Sangat dekat, bahkan lebih dekat dari iris helai rambut
Sengaja Ia meletakkannya bersanding dengan kita
Sejajar dengan hati. Indah menghias bathin kita
Indah mengisi kosong kalbu.

Tak pernah luput menyinari
Seharusnya ikut kita iringi keindahannya
Seharusnya terus kita isi dengan segala indah
Sambut sinar lembutnya.

Kokoh menyinari.
Lebih kuat dari apapun di luar batas nalar
Seolah memisahkan bayangan dari raga
Membawa kita melayang menuju segala dasarnya

Cahaya yang selalu mengantar ke arah yang pasti
Mencerahkan mata yang sempat semu.

Jangan jauhkan cahayamu
Aku memohon lebih dari apapun.

Noor e Khuda

Jumat, 12 Maret 2010

Pemimpin


Seolah yang paling berkuasa, seolah pemegang teguh tahta teratas dari satu bagian kecil ataupun besar. Seolah memiliki semuanya yang tidak dimiliki beberapa orang yang berada dalam genggamannya. Seolah telah memiliki apa yang setiap manusia butuh dan inginkan. Seolah sebagai manusia yang dapat dipercaya sanggup mendamaikan. Seolah sanggup memberikan penghidupan yang layak bagi (lagi-lagi) orang yang dibawah kepemimpinannya. Seolah menentukan hari ini akan berlangsung seperti apa. Seolah yang memberi hidup dan mati. Seolah memberi setiap hirup nafas. Seolah mendetakkan setiap jantung umatnya. Seolah turut andil dalam setiap kedip kelopak. seolah sanggup mengikuti laju darah dalam tubuh. Seolah sanggup menerjemahkan apa arti hidup yang terbenar dalam dunia yang serba semu ini. Padahal tak juga. Bahkan sama sekali tidak.

Pemimpin adalah yang terpilih untuk mencari setiap jalan keluar maupun jalan tengah di setiap kemelut yang terjadi dalam bersosialisi. 
Melayani setiap susah yang diderita umatnya. Menyelaraskan setiap tujuan yang kan dicapai bersama-sama. Jelas bukan dasar atas tujuan pribadi. Pemimpin hanya menyuarakan setiap rintih golongannya. Tak lebih sebagai penopang dagu masyarakat. Seharusnya memang tidak ada jarak di antaranya. Tidak ada kemewahan sendiri-sendiri, yang ada berupa kebersamaan menopang sama rata. Tidak ada tembok-tembok yang membatasi antar manusia. Tidak ada yang di tempat tinggi dan di tempat rendah. Semua sama.

Berhati-hati ketika menjadi orang kaya (karena berhasil menjadi pemimpin), pun sebaliknya jika menjadi orang miskin. Tidak ada yang salah dengan orang kaya, pun tidak ada yang salah dengan orang miskin. Semua tergantung bagaimana kita berlaku sebagai manusia selayaknya utusan di muka bumi ini. Tidak iri kepada orang kaya yang memiliki segala keduniawian. Tidak pula iri kepada orang miskin yang terkadang memiliki rasa syukur yang lebih. Tidak menyalahkan dunia yang memang seperti ini adanya. Tapi salahkan diri kita sendiri yang tidak menjalani hidup di dunia sesuai dengan perannya.

Rabu, 10 Februari 2010

Bermuram Durja
















Ia tak tahu apa yang diinginkan. Tak tahu apa yang diharapkan. Ia tersadar, hanya Dia yang tahu apa yang benar-benar dibutuhkan. Hingga berada dalam keadaan berpasrah menerima segala luka. Mungkin memang hidup seperti inilah yang seharusnya terjalani. Hingga rela Ia menuntun setiap manusia menuju semua keinginan dan kebutuhan. Menuju apa yang hidup perlukan, dalam menjalani setiap detik langkah detaknya. Ia merasa beruntung telah diberi kesempatan untuk melebur lebih dalam, menembus jarak ruang bathin yang memiliki bermilyaran celah nan luas di alam jagat raya. Perjalanan ini sadarkan betapa manusia hanyalah ”yang tak terlihat” di antara segala yang terlihat.

Hidup itu berbagi, hidup itu terbagi untuk memilih apa yang kan terpilih.

Dan akan menjadi pilihan yang menentukan setiap polah laku. Yang seolah menunjukkan karakter manusia, namun bukan karakter bathin jiwa. Karena bathin jiwa akan tetap pada kondisi netral. Apa yang membentuk sifat dan karakter manusia  menjadi berbeda-beda, adalah karena raga menerima gelombang tak rata yang diterima dan bersinkronisi terhadap ion-ion positif maupun negatif dari alam semesta. Kita sendirilah yang sementara memandang hidup akan seperti apa dan sebagai apa. Setiap bencana pun bisa jadi merupakan akibat dari apa yang telah manusia perbuat. Karena tidak sesuai dengan gelombang yang awal terciptakan.

Senin, 01 Februari 2010

Siapa kita?














Sudah lebih ku mendapatkan apa yang jarang tersadari. Namun rasa “kurang” masih akan selalu berasa. Apa yang ku maui di dunia ini? Kadang terasa berlebih. Di satu sisi orang melihatnya sebagai suatu kekurang. Tapi tetap ku merasa sudah mendapat lebih, kuusahakan setiap apa yang ku olehi sebagai suatu yang akan mencukupiku dalam alur hidup. Tidak perlu banyak, apalagi berlebih. Secara materism memang terlihat tidak pernah cukup. Tapi ku merasa semuanya memang sudah cukup untuk ku terus belajar lapang menjalani hidup.

Yang kudapatkan malam ini cukup membuatku sedikit berdiri berkaku. Tiba-tiba saja terlontar dari mulutku. Kalimat yang membuat hatiku kembali berputar mencari-cari satu titik diantara titik-titik remang dalam benak.

“Hidup itu hanya mencari tahu siapa diri kita sebenarnya.”

Semua akan kembali ke awal, apapun akan kembali pada titik awal. Setiap apapun yang berkembang akan selalu kembali ke awal. Ingin rasanya terus mengulang-ulang kalimat “kembali ke awal”. Karena memang ini yang ku rasakan. Jelas semua akan berulang dan akan terus berulang. Entah ini berlaku bagi kita, alam dan segenap dimensi yang kita tahu saja. Ataukah berlaku bagi seluruh jagad raya yang serba misteri ini. Dari kalimat yang sungguh singkat dan seolah ringan ini tersimpan jutaan makna yang sangat luas.

Dalam konteks pencarian diri kita yang sebenarnya ini, sangatlah tidak mudah untuk dipahami dan diterima secara ragawi. Mungkin otak kita bisa berpikir logis dalam menjalaninya, namun apa iya, mau hati juga memiliki pemahaman dan penerimaan yang sama dengan otak logis?

MASALAH adalah salah satu beban yang kita anggap paling berat. Dan ini sangat erat hubungannya dalam pencarian jati diri. Masalah kadang akan selalu menjadi momok dalam hidup kita. Sebisa mungkin kita menjauhinya, menghindarinya dan hampir tidak akan pernah mencari-cari yang namanya masalah. Karena jelas, itu akan membuat beban hidup semakin berat.

Masalah itu jelas pasti akan berlalu. Jelas itu. Semua hanya masalah waktu. Entah butuh waktu satu detik, satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, sepuluh tahun, lima puluh tahun atau bahkan bukan kita sendiri yang menyelesaikan, namun ratusan tahun ke depan akan ada seseorang yang sanggup menyelesaikan masalah tersebut. Namun seberapa lamapun itu, masalahnya hanya WAKTU.

Dengan bergulirnya waktu, kita akan terus berupaya dalam pencarian solusi yang perlahan akan mengantarkan kita menuju penyelaman ragawi, secara tidak sadar. Semakin lama kita seolah makin ringan dalam menghadapi masalah yang terhadapi. Terus perlahan-lahan kita akan bertarung dengan tubuh kita sendiri mencari apapun yang bisa MELENYAPKAN masalah. Secara perlahan pula kita menggerakkan sistem tubuh kita dalam sensor motorik maupun olah batin yang mengantarkan kita pada kesadaran atas kemampuan diri (jiwa & raga) kita yang sebenarnya. Kemampuan yang sebelumnya tidak kita ketahui, bahkan disadari.

Ini memang titik terberat dalam menjalani hidup. Seratus tahun pun kita di beri nafas, belum tentu kita sanggup memahami apalagi menguasainya. Pencarian jati diri memang sangat perlu kita lakukan. Dengan memahami siapa diri kita. Maka, hati kita akan semakin terbuka lebar menuju pemahaman alur penciptaan diri kita sendiri. Seberapa rumitnya penciptaan yang terjadi pada diri kita. Darah yang mengalir konstan, jantung yang berdetak sesuai, semua indera tubuh yang LANGSUNG bergerak, jauh sebelum kita memerintahkannya secara sadar.

Sungguh tak terbayangkan bagaimana semua itu bisa terjadi pada diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa hidup seperti saat ini. siapa yang menciptakan? Siapa yang terpikir untuk menciptakan makhluk luar biasa seperti kita? Makhluk yang sanggup membuat peradaban sendiri, sanggup membuat bangunan-bangunan yang megah untuk menghias bumi yang diciptakan untuk kita sendiri. Darimana pemikiran-pemikiran itu termulai. Sungguh otak kita sangat dibatasi oleh pemikiran itu semua.

Kita sungguh dimanjakan oleh-Nya, kita hanya perlu memikirkan apa yang bisa kita lakukan di dunia ini, tanpa perlu repot-repot memikirkan bagaimana cara kita berpikir, bergerak, bernafas, bagaimana kita melihat dan bagaimana-bagaimana lainnya. Yang kita lakukan sekarang hanyalah tinggal menggunakan/memanfaatkan apa yang sudah disediakan.

Hmmm… ku masih belum sanggup mencapai itu. Masih gak jelas juga maksud pemikiranku sendiri.

Terima kasih buat temanku yang sudah membuatku tersadar. Hmmm... semakin ku yakin, semua memang hanya masalah waktu. ff

Jumat, 15 Januari 2010

Di Balik Langit-langit














Lagi-lagi ekorku putus. Lagi-lagi daya seimbangku terganggu. Tempat ini rasanya sudah tidak lagi aman, tapi gerak tubuhku tak  sanggup bergesit menjauh. Ruang sempit ini kujadikan tempat sembunyi, sampai ekorku kembali menyeimbangkan. Nafasku masih engah, mataku terus waspada. Bibir keringku bergetar mengembus nafas keluar masuk. Lagi-lagi masih belum berhasil mulutku mengunyah, untuk bertahan sampai esok dan hari berikutnya. Aku semakin takut, rasanya tidak lagi ku memiliki semangat untuk terus bertahan. Ku tutup kelopakku lunglai. Rasa lapar tak sanggup lagi kutahan. Daya tubuhku menurun, darahku seolah tak lagi kurasakan beralir dalam tubuh. Lemah meruntuh dalam pelukku sendiri. Hangat tak lagi terasa, tubuhku dingin. Berhari-hari berperut kosong. Tak ada fondasi bagi duri-duri tulangku berdiri tegak. Tak ada sel-sel yang bisa menggerakkan detak tubuhku. Pasrah berlinang, berpejam peluh. Aku masih kurang berhasil mencari makan untuk kelangsunganku. Tapi bukan berarti hidupku juga tak berhasil.

Ini hanya kegagalan yang akan terus memberi selubung ion positif bagi instingku untuk terus mencari makan.

Sabtu, 02 Januari 2010

Kita Dengan Apa Yang Dianggap Salah


Definisi salah kadang membuat kita resah, membuat seolah sepadu dengan dosa, atas apa yang terlakukan mungkin sengaja atau tidak. Selebihnya, dosa bukan sesuatu yang bisa diketahui takarannya. Bukan sesuatu yang sanggup kita sentuh untuk menghitung satu demi satu kesalahan kita. Sebanyak dan sebesar apa itu semua menggelontor di sisi sebelah mana tubuh kita. Apa letaknya di dalam tubuh kita? Atau jauh di luasnya hati kita? Tapi seberapa luaskah itu? “luas” yang mungkin hanya sebuah ungkapan. Karena mungkin Sang Kuasa menyimpan itu dekat dengan-Nya. Sehingga untuk meraihnya kita butuh lebih dari sekedar kekuatan/energi yang sangatlah besar dan kuat agar bisa “sedikit saja” mengontrolnya.
Kontemplasi hati yang tersalurkan melalui otak kita, sanggup melahirkan pemikiran-pemikiran luar biasa. Bahkan karya yang dianggap mampu merubah pola pikir orang lain, merubah tatanan masyarakat, merubah sistim sosialisi hingga mampu merubah pemikiran manusia dunia. Mereka semua biasanya disebut dengan pioneer, penemu atau apapun itu. Dengan kegigihan/bakat atau hanya sekedar kebetulan, menciptakan sesuatu yang revolusioner terhadap perkembangan pola hidup manusia. Di samping itu muncul juga dengan cepatnya para peniru yang menurut beberapa orang adalah sebuah kesalahan yang fatal, karena telah mengambil dengan sengaja pemikiran dari manusia sebelumnya. Buah pikiran yang seolah menjadi hak milik penuh dari pencipta sebelumnya. Apa iya semua yang ada di”sini” bisa menjadi hak kita sepenuhnya?

Semua itu bisa saja berupa pengembangan dari setiap pengembangan berulang.

Tak layak kita ber”tinggi” atas apa yang telah kita buat seolah bagus dalam pandangan nyata. Yang seakan membuat kita sebagai orang paling cerdas. Padahal kita sendiri belum tentu bisa menjelaskan dari mana datangnya ilham itu. Entah dunia meta mana yang mengirimkan gelombang-gelombang cahayanya. Mungkin pula seorang penemu atau pioneer itu belum sanggup memetakan pemikirannya, hingga ilham bersandar di otaknya.
Sang penemu akan selalu memiliki keterkaitan pemikiran dengan apa yang hidup atau tercipta sebelumnya, walau antara penemu dan referensi itu tidak saling terkait satu bidang ilmu/karya. Itu semua juga ranah dari sebuah pengembangan berulang itu sendiri. Namun alangkah baiknya jika setiap pengembangan tetap terjaga resonansinya, agar harmonis dan sinambung. Karena itu juga salah satu hasil dari fungsi pemisahan pola otak dalam peran merangsang sel-selnya.
Setiap manusia tunggal berkesempatan untuk berpikir dan berkreasi. Dari milyaran manusia di bumi akan ada hanya beberapa pemikir yang terpilih sebagai “penemu”. Jadi tidak mungkin semua manusia akan menjadi pencetus. Hingga tercipta hubungan timbal balik antar manusia. Membutuhkan dan dibutuhkan, menginginkan dan diinginkan.
Pemikiran terhadap fungsi “salah” di dunia ada "mungkin" karena hukum/copyright/kebiasaan/adat yang diciptakan/dibuat sesama kita sebelumnya dan membuat manusia seolah salah dan berdosa. Dan tergelintir dalam hukum "salah" dunia. ff

Sabtu, 21 November 2009

Cerita yang terbuang : Selingan Menunggu Waktu

Matahari baru muncul setengah, langit masih sedikit berurai warna segar. Pelan-pelan Aru mengendarai sepeda motornya, menikmati kesejukan di pagi hari. Sudah banyak yang beraktifitas. Orang-orang berlari pagi, tukang sapu jalanan, pasar pagi yang sudah mulai membereskan dagangannya dan bergantian shift dengan pedagang lainnya, ada juga yang sudah membuka warung dan lain sebagainya. Di atas jembatan Aru berhenti. Melihat suasana kota dari ketinggian sedang. Tidak terlihat banyak pemandangan itu, tapi paling tidak ia berada lebih tinggi dari stasiun kereta api. Banyak sepasang muda-mudi yang asyik menikmati indahnya pagi berkendara sepeda motor, bersepeda pancal dan naik becak berdua. Beberapa kali Aru mencoba mengajak Murni untuk jalan-jalan di pagi hari seperti ini, tapi tidak pernah mau. Hari libur seperti ini ia selalu bangun siang, tidak pernah kurang dari jam sepuluh. Katanya sih kelelahan setelah bekerja lebih sibuk darinya mulai Senin sampai Jumat.

Ia melanjutkan perjalanan dengan mengandarai sepeda motor pelan. Menghirup udara segar. Kalau siang polusi sudah pasti merajalela merambah seluruh daerah dengan detail. Ia melewati kompleks Murni, membuatnya kembali terpikir jika suatu saat nanti menikah dengannya. Pagi demi pagi yang segar akan terlewatkan begitu saja. Reka kehidupan jika bersama Murni akan seperti ini: Kalau hari kerja, begitu bangun pagi langsung berangkat kerja, tanpa ada basa-basi sedikitpun, karena bangunnya juga mepet-mepet. Begitu pulang kantor langsung tidur karena kelelahan bekerja seharian sampai lembur atau di sambung jalan-jalan ke mall. Hari libur bangunnya siang, sorenya jalan-jalan ke mall, nonton bioskop dan lain-lain, malamnya dinner di luar, karena Murni lebih memilih makan di luar daripada masak sendiri. Apalagi gaji Murni yang nanti pasti beranak pinak, mengingat kredibilitasnya dalam bekerja. Kira-kira seperti itulah bayangannya jika melewati alur dunia dengan Murni. Aru masih belum bisa membayangkan gaya hidup yang seperti itu. Terus ia berkendara melaju menjauh dari kota ia tinggal.

Pintu masuk gapura kota seberang sudah berada tepat di atas ubun-ubun. Kota ini lebih hijau dibanding dengan kota Aru tinggal. Gampang sekali mencari workshop milik pakdenya, melewati Alun-alun yang ramai orang berlari pagi, duduk-duduk bersama keluarga, bermain layangan, sepatu roda, skateboard, sepak bola dan ada beberapa pedagang makanan dan minuman. Setelah itu belok ke kanan masuk gang kecil bergapura hijau. Sepeda motor ia matikan dan dituntun memasuki gang itu. Terlihat bangunan yang terbuat dari triplek diberi warna abu-abu, dan di depannya terdapat furniture-furniture yang dengan sengaja dipajang di depan untuk menarik perhatian. Jam delapan kurang seperempat Aru tiba. Cak Juki langsung keluar, karena ia merasakan ada yang datang dan menyambutnya dengan salam.

”Selamat datang di istana saya.”

Walaupun bangunannya tidak begitu bagus, tapi Cak Juki bersemangat sekali menyebut workshop itu sebagai istana kebanggaannya.

”Silahkan masuk Ru, sepedanya masukkan juga ke dalam biar aman.”

”Siap Cak.”

“Gimana kabar Ayah dan Ibumu?”

“Baik Cak. Salam dari Ayah dan Ibu?”

“Iya wa’alaikum salam.”

Ia melihat workshop Cak Juki yang bersih, rapih dan di pojok ada musholla yang cukup luas dan bersih. Setelah Aru memarkir, ia mengambil plastik kresek hitam yang digantung di sepeda motornya.

”Ini Cak, saya bawakan sarapan.”

”Wah repot-repot kamu Ru.”

”Nggak lah Cak, sekalian promosi warung milik Ibu.”

”Oh, Ibumu punya warung toh?”

”Iya Cak.“

“Wah, Muantab Ru. Tahu aja Ibumu kesukaan saya.“

“Saya bawakan enam porsi, buat siapa saja yang ada di sini.”

”Sip, sip Ru, nanti pasti saya bagi rata, terima kasih.”

“Sebenarnya Ibu sudah lama ingin Cak Juki merasakan masakan di warungnya. Tapi saya baru sempat sekarang nganterin ke sini.“

“Iya gak pa-pa Ru. Nanti kapan-kapan saya langsung makan di warung ibumu.“

Cak Juki mengajak Aru melewati tempat yang penuh dengan lampu neon berjejer. Kamar itu adalah kamar untuk proses akhir dalam pembuatan furniture, setelah melalui proses pengecatan lalu dikeringkan di dalam kamar itu. Ada sebuah rak yang diletakkan di dalam ruang itu, berdiri dengan gagah di tengah-tengah, lemari berwarna putih.

Tukang-tukang Cak Juki ada delapan, semuanya giat bekerja. Cak Juki lebih senang menyebut tukang-tukang mereka dengan sebutan karyawan, biar mereka serasa bekerja di tempat yang bonafit. Selain itu juga karena mereka adalah manusia-manusia yang berkarya, bukan dengan maksud sekedar tukang yang bisa bekerja berdasarkan instruksi. Apalagi manusia yang dikaryakan, seperti yang saat ini dilakukan oleh para kapitalis di seluruh dunia.

”Hari Sabtu masih kerja Cak.”

”Kebetulan saja lagi ada kerjaan buat pameran nanti malam, mau tidak mau ya lembur Ru.”

”Dibayar Cak?”

”Iya, saya hitung lembur, sudah masuk dalam budget penawaran juga.”

Sampai siang ia berada di workshop Cak Juki, Aru betah berada di situ, mencoba-coba mengamplas, menggergaji, mengecat duco. Semangat sekali Aru.

”Kamu mau kerja di sini Ru.”

”Mau, Cak Juki Serius?”

”Hahahahaha... mana mungkin kamu mau Ru.”

Tak terasa Adzan Dzuhur terdengar nyaring di masjid sebelah, dengan suara mikrofon yang terputus-putus diiringi suara feedback melengking beberapa kali. Segera Cak Juki dan semua karyawannya ganti baju yang bersih, lalu bersama-sama menuju masjid. Workshop itu dibiarkan kosong. Aru pun ikut bergegas menuju masjid. Setelah selesai mereka segera kembali ke workshop dan mulai bekerja lagi. Aru merasa sedikit aneh dengan kondisi seperti itu, ia mencoba bertanya dan memberi solusi kepada Cak Juki.

“Cak, kerjaan ini harus selesai malam ini kan?“

“Iya, kenapa Ru.“

“Apa tidak sebaiknya karyawan Cak Juki bergiliran sholatnya. Sebagian sholat, sebagian terus bekerja dan sebaliknya. Ini juga menyangkut efisiensi waktu kerja, agar pekerjaan bisa selesai sesuai dengan waktu yang diharapkan, bahkan bisa lebih cepat dari yang ditentukan.“
















Cak Juki tersenyum mendengar perkataan Aru.

”Apa harus begitu Ru.”

”Iya Cak, time is money, waktu adalah uang, kita harus bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Kita hidup di dunia itu bagaikan dikejar-kejar oleh waktu yang tak pernah berhenti sekedippun.”

”Kamu selalu seperti itu ya?“

“Iya Cak, jadi kalau di kantor, saya bergantian dengan rekan saya. Dan pekerjaan selalu beres tepat pada waktunya, bahkan kadang-kadang lebih cepat dari deadline yang ditentukan.”

“Ayo kita duduk.”

Mereka berdua duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu. Cak Juki menghela nafas panjang, lalu bercerita.

“Saya dulu juga berpikiran seperti kamu Ru, saya selalu mendahulukan kepentingan dunia, selalu takut bila pekerjaan tidak selesai pada waktunya. Tapi apakah kamu nggak sadar, bahwa mendahulukan yang serba Maha Mutlak itu lebih penting dari apapun meliputi alam semesta dan seisinya.”

Aru diam dengan wajah mengernyit sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakang.

“Kita terlalu takut terhadap dunia tempat kita hidup. Seolah dunia inilah yang menentukan nasib kita. Sebagai contoh, kalau bekerja di perusahaan, kita lebih takut jika tidak dapat menyelesaikan pekerjaan. Takut tidak naik gaji ketika kita sudah bertahun-tahun bekerja. Padahal kita selalu ikhlas dalam mengerjakan semuanya demi perusahaan. Ada juga yang takut jika suatu saat nanti tidak naik jabatan. Takut taraf hidup ekonomi kita tidak naik juga. Dan semua rasa takut itu melebihi rasa takut kita jika tidak naik ke surga pada saatnya nanti. Hukum Allah Maha Mutlak dari segala hukum semesta alam.”

“Iya Cak, tapi pembicaraan saya tidak sampai ke situ Cak.”

Cak Juki tersenyum mendengar Aru berkata.

”Ini hanya masalah efisiensi waktu Cak, saya hanya menawarkan sebuah solusi, yang mungkin bisa...”

Belum selesai Aru berbicara, Cak Juki menepuk pundaknya, dan berkata.

“Bekerja adalah selingan menunggu waktu sholat.”

Ia tertegun dengan kata-kata itu, wajahnya memerah dan tidak sepatah kata pun keluar dari lidahnya. Cak Juki melepaskan tangannya dari pundak Aru.

”Sudah Ru, kita kerja lagi. Kata kamu time is money.”

Cak Juki tersenyum dan langsung berdiri berjalan menjauh. Aru masih tertegun. Ia hela nafas panjang dan mengikuti langkah Cak Juki. Dalam hati ia bergumam.

”Ah nggak juga.”

p:

Kamis, 19 November 2009

. . .


















Bergerak untuk menerus hidup
Terlepas untuk bertegar hati
Beranjak untuk tandai waktu
Menghilang untuk tak kekekalan

Tergerak untuk yang tak sinkronisi
Mencepat untuk jelas gerak jiwa
Terpaku untuk tak bertinggi
Berakhir untuk yang lain bermulai

Bahkan lengah ketika siap
Bahkan menang ketika tak bersiap
Pertanda hanya beri sedikit saat untuk sadar
Tertunda mungkin memang diberi kesempatan
Untuk terus bertapak lalu

Selasa, 17 November 2009

Death Clock Denying















Ajal akan selalu berlalu, sedih, pahit, pedih
Kadang pun kebahagiaan dan semangat.
Ajal tidak akan menghalangi waktu untuk terus berlalu
Walau dalam pengertian waktu di lapisan dunia manapun.

Waktu, satu-satunya yang abadi
Yang membuat semuanya ada
Dan membuat semuanya terus berlalu

Mudah melewatinya
Mudah sekali melupakannya
Namun tanpa daya meraihnya kembali
Sejajar berdamping, berjalan beriring pun takkan sanggup
Hanya bisa merasakannya berlalu
Membawa menggiring semua kita.

Hidup dan mati adalah serupa
Tergantung melihat dari batas waktu yang mana
Hidup di sini, mati di sini atau
Mati di sini sama dengan hidup disana.
Atau memang mungkin mati tidak pernah ada
Hanya berpindah hidup dari satu ke satu lainnya menerus

Adalah diperkenalkan pada sesuatu
Yang fisik kita pandang baru dalam segala batasnya

Sadarkah waktu meninggalkan kita?
Sadarkah waktu membawa semua kita?
Sadarkan waktu memberi kesempatan berulang?
Kesempatan yang terberikan jauh lebih cepat dari kedip.

Tiada waktu untuk beristirahat dari berguna
Habis waktu untuk tertawa, menertawakan dan ditertawakan
Bersisa waktu untuk berlaku terhadap apa yang telah kita sadari
Ajal tidak akan memberi celah bersesal

Waktu akan terus berlalu
Walau ajal terus-menerus merenggut satu per satu

Jelas nikmat jika waktu terkendali
Jelas tahu mana yang benar
Pilihan mana yang paling benar
Dari mana kita dan semua berasal
Apa tujuan kita melalu waktu

Semua kembali bagaimana menghargakan waktu.
Dan sadar akan adanya ajal yang tak berwaktu

: Olah hati untuk album baru Lull | Death

Wednesday, October 21, 2009 at 2:31pm

Tunggal bermajemuk



Berawal dari melihat hidup orang-orang di sekeliling, yang selalu terasa berlebihan. Selalu merasa sebagai yang terbaik, hingga materi bisa menundukkan segalanya. Sanggup menggantikan kesenangan dan kebahagiaan akan hidup di dunia. Pun berpengaruh terhadap kurang pedulinya terhadap apapun yang sanggup membuat hidup seharusnya lebih berkesinambungan satu sama lain tanpa adanya pembedaan, tanpa ada ketakutan yang bisa membuat jarak antar manusia tunggal dengan tunggal lainnya, hingga tunggal bermajemuk. Sempat jatuh, beberapa kali patah semangat dan benar-benar ingin menjalankan hidup dalam porsi aman berfinansial dengan bergantung pada satu pohon yang telah lama subur. Tapi apa iya hidup seperti ini yang dicari? Tanpa ada kesan dan penghargaan terhadap apa yang telah kita olehi dari alam ini.
Hingga akhirnya bertemu titik terang yang mengantarkan kepada imajinasi berhalusinasi dan membuat saya lebih larut merasakan, terhadap detak nafas manusia-manusia yang hidup lebih indah dalam balutan tubuh tidak sesempurna jiwa raga kita. Namun semangat mereka untuk tetap melanjutkan hidup telah meruntuhkan benih ke”tinggi”an dalam diri saya. Dan benar-benar telah membuat saya hanyut dalam keterpurukan batin, hingga mengantarkan saya jauh terdalam dari makna hidup yang ”mungkin tenyata memang” sebenarnya.
Hidup adalah bersosialisasi. Hidup adalah sama walau porsi cobaan dan rintangan berbeda antar sesama. Tapi kita semua sama, tidak ada beda dalam menjalani porsinya. Terbuka mata batin saya untuk kesekian kalinya, walau belum juga membuat menoleh lebih tegak lagi, terhadap hal-hal kecil namun berarti luar biasa besar dan sanggup membuat hati saya mencair berharu. Kalau memang kita sadar, mereka dekat dengan kita, mereka juga memiliki mimpi seperti kita, mereka ingin menjalani hidup seperti kita. Bahkan mereka lebih menghargai makna hidup dibanding orang-orang yang diberi kesehatan yang seolah sempurna dalam kasat mata. Apa iya hidup itu akan sempurna jika kita memiliki raga yang sempurna dan sehat? Bukan, bukan itu makna dari kesempurnaan hidup. Batinlah yang membuat kita sempurna dalam menjalani hidup. Batin yang mengontrol setiap pikir dan polah kita. Otak & raga lainnya hanya media sebagai perantara batin kita bekerjasama dengan raga dalam beresonansi di bumi ber-alam ini. Semua berawal dari batin. Sayangi hidup kita di semesta ini dengan mulai menyayangi nafas kita sendiri, dan memulainya bersama sesama dengan tangan-tangan redup kita sendiri tanpa ada perbedaan.

 Seperti anak tangga dengan ketinggian yang jelas berbeda, namun memiliki fungsi pasti yang sama di tingkatan berbeda. ff

Wednesday, October 14, 2009 at 9:34am

HIGH with FRIDAY Live at PLANETARIUM



Terima kasih buat temen2 yang sudah mau dateng ke acara ini tadi malam... terima kasih buat semua yang support kami tapi gak bisa dateng... Terima kasih juga buat KPAP DKI Jakarta, Dinas Pendidikan & UPT Planetarium. Mindagement & Tadpole Records, Puput & Aline yang selalu memberikan semangat terbaik bagi kami, Memy, Elma, Aci, Nadya, dan anak-anak dari Friday, Agil, Rinci, Yusman & istri, Chisti, Royas, Rara, Retha, Muhsin, Adji, Gambit, Vanco, Izzat, Yeyen, Mbeng, Tania Clover, SMP Lemuel, Adit, Mtv Insomnia dan semua yang luar biasa memberikan energi pada kami.
Semalam sungguh sebuah gigs yang luar biasa bagi kami... kalian memberikan tepuk tangan yang membuat kami merinding dan tiada henti ingin terus bermain dalam hujaman langit pekat bertabur bintang bercahaya tajam berputar-putar seolah membawa kita semua berlayar mengelilingi alam semesta. Planetarium TOP SERU!!!! POLLL!!!.
Venue Planetarium bukan sebuah akustik yang mudah untuk menggaungkan kompisisi audio. Hanya 6000 watt yang disediakan bagi kami untuk memaksimalkan sound yang harus sempurna. Beruntunglah, sang audio director, vanco berhasil menaklukkan semua masalah akustik di dalam Planetarium bersama izzat dan ferry. Dan membuat sound yang saling bertabrakan di dome bulat setengah lingkaran seolah runtuh dari langit yang terpantulkan dari bawah, begitu cepatnya! Dan menjadikan sebuah sound panggung yang unik.
Monitor vocal, yang sempat beberapa kali redup membuat beberapa kali miss sync dengan yang lainnya.
Tapi tetap tidak membuat Bram, Komar, Guntur, saya, Mbeng, Tania Clover dan 16 teman2 choir dari SMP Lemuel runtuh semangat… Penutup choir sanggup menyihir kami semua dengan suaranya yang merdu dan tajam, terima kasih kepada ibu Remina, kepala sekolah SMP Lemuel. Mantab. Walau hanya 2 kali kami latihan bersama, tapi kecerdasan mereka menangkap semua nada yang cukup rumit meleburkan semua ragu yang sempat tertanam.
Sehingga kami dan choir SMP Lemuel bisa memberikan yang terbaik bagi kalian semalam, sungguh show yang tidak pernah akan kami lupakan sampai kapanpun… terima kasih, terima kasih, terima kasih.

 Kedatangan kalian semalam membuat kami semangat kembali untuk meneruskan semangat yang sempat patah beberapa tahun terakhir.

Terima kasih terima kasih.

Saturday, August 15, 2009 at 2:42pm

Sujud : Hari ini ku dapet satu ilmu lagi


Hari ini ku dapet satu ilmu lagi, dari email yang dikirim Tiar. Teman yang selalu aktif ngirim email setiap harinya. Mulai dari yang terlarang sampai ilmu yang bermanfaat. Hehe.... Mungkin juga sudah banyak yang tahu lebih dulu. Tapi ku akan membahasnya sedikit, berbagi hati dengan yang lainnya. Tentang makna sujud yang kita lakukan berkali-kali dalam sehari. Ketika membaca email itu benar-benar membuat ku merinding.

Allah tidak main-main disini, Ia benar-benar tidak memanfaatkan kekuasaan-Nya yang mutlak sebagai dasar kita untuk tunduk kepada-Nya. Semakin besar kecintaanku kepada-Nya, semakin indah bayanganku terhadap-Nya. Semakin takut ku tak dapat bertemu dengan-Nya dengan senyuman suatu waktu nanti.

Allah mengharamkan dan menghalalkan suatu hal bukan hanya karena kesanggupan-Nya menciptakan seluruh alam dan isinya saja. Bukan pula untuk membuat manusia takut masuk neraka. Namun semua itu demi kebaikan kita (manusia). Allah Maha Cerdas, semuanya (mulai dari ilmu pengetahuan sampai sesuatu yang kita anggap sebuah kebetulan) adalah bagian kecil dari triliunan sistem ciptaan-Nya, yang beberapa darinya wajib manusia telusuri, sebagai tanda syukur atas apa yang telah Ia berikan. Bukan sekedar menyembah-Nya hanya karena apa yang sudah pernah kita dengar sebelumnya tentang ilmu agama yang mutlak diturunkan oleh-Nya.

Al quran diturunkan melalui Sang Nabi dan disampaikan dari waktu ke waktu yang mungkin berbeda persepsi satu sama lain. Namun intisari yang tertuliskan di dalamnya memberikan pesan singkat bagi setiap manusia dari masa ke masa, dengan maksud yang ditangkap mungkin juga berbeda-beda antara manusia satu dengan manusia lainnya. Akan semakin mutlak kita menyembah-Nya jika sanggup mengetahui lebih dari sekedar dasar-dasar ketaqwaan yang selalu kita pertahankan hari demi hari.

Sujud, adalah kata dari sebuah perbuatan yang membuatku terenyuh jika mendengarnya. Seorang peneliti non-muslim telah membuktikan, dengan meletakkan dahi kita ke tanah lebih dari sekali, maka tanah itu akan memberikan energi positif terhadap elektromagnetik yang selalu kita terima setiap detik laku kita. Manusia adalah sumber penerima gelombang elektromagnetik yang sangat besar, tanpa kita sadari. Semua itu terkirimkan melalui peralatan elektronik yang kita gunakan setiap saat, bahkan tidak bisa membuat kita menjauh darinya. Seperti handphone, komputer sampai lampu kota yang selalu menyala setiap malam.

Kita bersujud dalam sholat bukan sekedar refresh, peregangan otot, penenangan jiwa dengan berkonsentrasi pikiran pada satu titik (khusyu’), semedi ataupun Yoga yang terlakukan tanpa kita sadari. Melainkan lebih dari itu.

Bahkan mungkin masih banyak lagi rahasia-rahasia Ilahi yang belum terkuak ke permukaan. Allah merencanakan ini semua jauh sebelum listrik di temukan, maksudnya listrik yang kita gunakan sehari-hari pada masa sekarang (bukan pada masa perintah sujud/sholat itu diturunkan). Ini membuktikan bahwa Alquran sifatnya abadi, sejak awal zaman sampai akhir zaman. Mungkin akan benar juga jika suatu saat nanti gelombang elektromagnetik akan hilang sepenuhnya dari muka bumi, Wallahu alam.

Semua yang Ia perintahkan namun kita keluhkan adalah mutlak untuk diri kita sendiri sebagai wujud syukur pada-Nya. Untuk tubuh kita yang belum kita kenali apa fungsi utama dan pendukung dari semua organ tubuh kita. Demi kebaikan kita (manusia dan alam). Agar bion-bion positif semakin mengalir deras dalam tubuh kita.

Manusia diberi otak untuk berpikir, terhadap kenapa boleh dan tidak bolehnya sesuatu. Akan lebih baik jika kita mengetahui tujuan hidup kita di bumi, tujuan otak kita dalam berpikir. Semua harus berlandaskan Al quran, sehingga kita tidak akan salah dalam mengartikan satu hal ataupun hal lainnya yang bersangkutan dengan segala maksud dari setiap detail penciptaan.

Sang Nabi telah mengetahuinya jauh sebelum semuanya terteliti.

Jan 27, '09 12:33 AM